Review Battlefield 1
Pelajaran Sejarah Tanpa Bikin Bosan.
Semua gamer setuju belajar itu membosankan. Namun, bagaimana kalau belajar sambil bermain game? Itu lain lagi ceritanya. Battlefield 1 menawarkan pelajaran sejarah tanpa membuat kita bosan. Game first person shooter (FPS) ini--walau kadang jadi third person shooter dalam beberapa mode--menawarkan enam cerita fiksi dengan latar belakang sejarah Perang Dunia I.
Untuk beberapa segmen, Batlefield 1 menceritakan peristiwa bersejarah yang memang benar terjadi. DICE pun mengadopsi beberapa karakter asli dari perang maut antar negara itu. Hanya saja, ada beberapa karakter fiksi yang dibuat untuk kepentingan game.
Single player campaign yang terbagi menjadi enam 'War Stories' ini berdurasi pendek. Setiap cerita, bisa dimainkan hanya dalam waktu kurang dari satu jam dan tidak sampai dua jam, bila dimainkan secara konstan.
Meski terbilang singkat, alur cerita yang disajikan di Battlefield 1 mampu membuat mata kita terbuka atas kekejaman perang yang memang terjadi di masa lalu. Ambil contoh epilog campaign yang tiba-tiba menempatkan pemain di tengah-tengah medan perang dan dikepung musuh tanpa ada jalan keluar.
Ya, pemain akan langsung memerankan salah satu tentara dari Harlem Hellfighter, salah satu resimen Amerika Serikat (AS) yang beranggotakan prajurit kulit hitam.
Seberapa keras pemain berusaha bertahan hidup, ujung-ujungnya pasti akan gugur juga. Setelah itu berpindah ke tentara lain, dan ujung-ujungnya tetap sama, yakni terkepung, panik, berusaha bertahan hidup, tapi akhirnya gugur.
Perang Multiplayer Besar-besaran.
Fokus DICE dalam merilis Battlefield 1 adalah multiplayer. Dari awal demo diluncurkan, Battlefield 1 memang sengaja dikembangkan untuk perang antar player, tentu saja secara online.
Menariknya adegan pertempuran bersejarah di multiplayer ini dilakukan secara besar-besaran. Bisa dibayangkan apa jadinya jika 32 pemain lawan 32 pemain di peta yang sama, bukan.


Komentar